Selasa, 19 Maret 2019

Tugas 1 Perekonomian indonesia

Perkembangan Ekonomi Sumut 2019 Diprediksi Melambat

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomiSumatra Utara pada 2019 melambat.

Direktur BI Kantor Perwakilan Sumut, Hilman Tisnawan, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah itu pada 2019 baik konsumsi rumah tangga maupun investasi akan melambat karena sentimen politik.

Sementara itu, kegiatan ekspor dipengaruhi faktor eksternal seperti rendahnya harga komoditas dan proteksionisme di beberapa negara seperti India dengan kenaikan bea masuk dan Amerika Serikat dengan pencabutan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP).

“Yang akan kelihatan menurun, di konsumsi rumah tangga akan melambat. Investasi akan menurun karena masih wait and see,” ujarnya

Sepanjang 2018, pertumbuhan ekonomi Sumut diproyeksi mencapai 5,24% atau lebih tinggi dari capaian 2017 yakni 5,12%. Menurutnya, mengacu pada konsumsi rumah tangga, pertumbuhan mencapai 6,6% sementara investasi 7,1%.

Adapun, di sektor konsumsi, realisasi bantuan sosial dan gaji ke-13 pada periode
Lebaran. Sementara itu, untuk investasi naik dilihat dari tren impor barang modal.

Kegiatan yang menyumbang pertumbuhan terbesar dari kelompok usaha
agroindustri untuk komoditas sawit yakni 56,1%. Besarnya kontribusi ini berpengaruh pada serapan tenaga kerja dengan porsi 26,6% ke sektor ini. “Sumut itu tumbuh lebih baik dari nasional, didorong konsumsi dan investasi,” ujar Hilman.

Sebelumnya, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Laksamana Adiyaksa, mengatakan tahun politik tak akan menjadi hambatan besar bagi para investor menanamkan modal. Dia menuturkan keputusan investasi bakal tetap dilakukan, tapi lebih pada pasca pemilihan umum.

Menurutnya, hambatan utama investasi justru berasal dari harga energi yakni gas yang disebut masih tergolong tinggi, padahal ketersediaan infrastruktur sudah memadai bagi investor.

Pengaturan harga gas khusus industri di Medan dan sekitarnya telah dikeluarkan melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber daya Mineral (Kepmen ESDM) No.434K/12/MEM/2017. Namun, dia menilai belum ada dampak signifikan terhadap harga gas yang diterima pelaku industri di Medan.

"Yang masih memberatkan adalah terkait dengan mahalnya energi, terkhusus harga
gas yang masih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya," kata Laksamana.

1. Mata pencarian
Menurut sumber yang saya baca, selama Agustus 2017 hingga Agustus 2018, tenaga kerja yang diserap sektor pertanian di Provinsi Sumatera Utara mencapai 2.390 ribu orang. Angka ini sebesar 35,53% dari total angkatan kerja di Sumut. Di sisi lain, meski masih menjadi sumber utama mata pencaharian mayoritas warga Sumatera Utara, jumlah dan porsinya terus berkurang. Angka per Agustus 2017 sebanyak 2.389 orang atau 37,51% dan per Februari mencapai 2.657 orang atau 38,94% Berdasarkan lapangan pekerjaan utama pada Agustus 2018, yang saya baca dari situs BPS Sumut, setelah sektor pertanian, sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan sebanyak 1.210 ribu orang atau sekitar 17,99%.
Diurutan ketiga sektor industri pengolahan menyerap sebanyak 687 ribu orang tenaga kerja atau sekitar 10,22% dari angkatan kerja.
Jika mengacu kepada tren lapangan pekerjaan selama Agustus 2017-Agustus 2018, lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase penduduk bekerja terutama pada industri pengolahan, yaitu 0,69 poin. Disusul oleh penyediaan akomodasi naik sebesar 0,63 poin dan jasa pendidikan yang meningkat sebesar 0,37 poin.
Selain sektor pertanian, sektor yang mencatatkan penurunan penyerapan tenaga kerja adalah jasa perusahaan yang terpangkas 0,40 poin. Sektor konstruksi berkurang 0,12 poin. Sedangkan sektor pertanian turun paling besar, yaitu 1,99 poin.

2. Potensi penghasilan
Potensi sumber daya alam prov Sumut : kelapa sawit, karet, kakao, jagung, pinang dan palawija. Di Pantai Barat, potensinya ikan laut, udang, rumput laut dan ikan olahan. Sedangkan dataran tinggi mulai sayur, buah-buahan, kopi, kemenyan, damar, kulit manis dan minyak nilam.

3. Usulan untuk pemerintah:

Usulan untuk pemerintah Sumatera Utara agar memberikan subsidi gas agar harga di pasar stabil dan mulai mengurangi ekspor ke negara yang harga komoditasnya rendah dan ber proteksionisme seperti India dan negara yang fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) nya dicabut seperti amerika serikat yang menyebebkan Bea Masuk menjadi tinggi dan komoditas yang dijual rendah.


4. Bonus: Lagu Daerah : Anju Ahu, Bungo Bangso, Cikala Le Pongpong, Bungo Bangso, Butet, Dago Inang Sarge, Lisoi, Madekdek Magambiri, Mariam Tomong, Nasonang Dohita Nadua, Rambadia, Sengko-Sengko, Siboga Tacinto, Sinanggar Tulo, Sing Sing So, Tapian Nauli Suku : Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Fakfak, Batak Angkola, Batak Toba, Melayu, Nias, Batak Mandailing, dan Maya-maya *

*Note: link lirik dan download lagunya menyusul

Tidak ada komentar: