Minggu, 07 Oktober 2018

Isekai wa Smartphone to Tomoni - ch 2


  • Chapter 02 : Kebangkitan dan Dunia yang berbeda

Ketika aku bangun, aku melihat langit. Awan bergerak secara perlahan dan kau dapat 
mendengar suara kicauan burung dari suatu tempat. Aku kemudian berdiri. Tidak ada rasa 
sakit. Aku berdiri dan melihat pegunungan dan padang rumput yang terhampar luas. Rasanya 
seperti berada disuatu tempat di pedesaan. Jadi ini adalah dunia yang berbeda dari duniaku 
sebelumnya. Aku melihat pohon besar dari kejauhan. Aku pikir ada jalan di dekat itu.
“Untuk saat ini, apakah aku akan bertemu seseorang di sepenjang jalan ini?"
Aku memutuskan untuk mulai berjalan menuju pohon besar itu. Tidak lama kemudian, aku 
melihat persimpangan jalan.
“Sekarang, jalan mana yang harus aku lalui.... tapi...”
Aku bingung apakah aku akan pergi ke arah kanan di mana pohon besar itu berada atau ke 
arah kiri. Hmm, jika aku pergi ke arah kanan, itu akan membutuhkan waktu sekitar 1 jam dan 
jika aku pergi ke arah kiri, itu akan membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mencapai kota. 
Jika itu yang terjadi, aku benar-benar bingung... sementara berpikir seperti itu, smartphone
yang berada di dalam saku tiba-tiba berbunyi
Ketika aku mengambil smartphone-ku, aku melihat ‘Panggilan masuk dari Kami-sama.’
“Halo?”
“Oh, itu terhubung, itu terhubung. Tampaknya kau tiba dengan selamat.”
Ketika aku meletakkan smartphone ke telingaku, aku mendengar suara Kami-sama. Beberapa 
saat yang lalu kita baru saja berpisah, tapi aku sudah merasa rindu.
“Aku lupa bilang kalau peta dan penunjuk arah pada smartphone mu telah disesuaikan 
dengan dunia ini. Jadi tolong gunakanlah dengan baik.”
“Begitukah. Itu akan sangat membantu. Saya baru saja tersesat.”
“Seperti yang kuduga. Tadinya aku akan mengirimu langsung ke kota, tapi aku takut 
akan menyebabkan keributan. Sebuah tempat yang jauh dari orang-orang, jadi, aku benar-
benar bingung harus mengirimmu kemana.”
“Hmm, jadi begitu.”
Aku menjawab sambil tersenyum masam. Tentu saja aku tidak tahu harus pergi kemana. 
Karena, aku tidak memiliki seorang kenalan atau kampung halaman.
“Jika kau melihat peta, kau tidak akan kesulitan untuk pergi ke kota. Jadi, 
berjuanglah.”
“Baiklah.”
Ketika aku menutup panggilan telepon, kemudian aku memainkan layar pada smartphone, 
dan menjalankan aplikasi peta. Sebuah peta ditampilkan dengan posisiku yang berada di 
pusatnya. Jalan terdekat pun diperluas. Aku rasa ini adalah jalan di mana aku berada. Ketika 
aku menggeser layarnya ke bawah, ada sebuah kota di sebelah barat. Mari kita lihat... 
Rifuretto? Jadi, itu adalah kota Rifuretto.
“Baiklah, ayo kita pergi ke sana.”
Aku memeriksa arah dengan aplikasi kompas dan mulai berjalan ke arah barat. Setelah 
berjalan sebentar, aku mulai berpikir bahwa ini adalah situasi yang sangat buruk. Pertama-
tama, tidak ada makanan, tidak ada air, bahkan jika setelah itu, aku tiba di kota? Aku tidak 
punya uang. Aku punya dompet, tapi bisakah uang yang kupunya ini digunakan? Jika kau 
berpikir secara logis, uang ini tentu saja tidak dapat digunakan. Apa yang harus aku lakukan 
sekarang... ? Sambil berjalan dengan melamun, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari 
belakang. Aku melihat ke arah belakang dan melihat sesuatu dari kejauhan sedang mendekat. 
Apakah itu... kereta kuda ? Ini adalah pertama kalinya aku melihat kereta kuda. Aku berharap 
seseorang bisa membiarkanku menaikinya... setelah datang ke dunia yang berbeda ini, 
setidaknya aku harus membuat kesan pertama, tapi pertanyaannya adalah apa yang harus aku 
lakukan. Kereta kuda berhenti? Tolong beri aku tumpangan. Aku mungkin akan ditolak, dan 
memutuskan untuk tidak melakukannya. 
Kereta kuda itu mulai mendekat, aku tahu bahwa kereta kuda itu mempunyai kelas yang 
tinggi. Bentuknya yang solid dan dibuat dengan sangat bagus. Aku yakin hanya orang yang 
ternama dan kayalah yang bisa menaiki itu. Bagaimana caranya untuk menghentikan orang 
semacam itu. Karean aku tidak mempunyai cara untuk menghentikannya, aku memutuskan 
untuk bergerak ke samping dan memberikan jalan pada kereta kuda yang bergerak mendekat 
dari belakang. Kereta kuda itu bergetar dan menghembuskan awan debu saat melewatiku.
Setelah melewati tanpa masalah, aku kembali ke jalan. Saat aku mulai kembali berjalan, aku 
melihat kereta kuda itu berhenti.
“Kau! Kau yang berada di sana!”
Pintu kereta dibanting terbuka dan seorang pria berambut putih dengan kumis yang 
hebat muncul. Mengenakan sebuah syal yang bergaya dan sebuah mantel, di dadanya itu 
bersinar sebuah bros berbentuk bunga mawar.
“Apa...?”
Saat pria dengan tampilan mewah itu mendekatiku, dalam hati aku berkata ‘Oh, aku mengerti 
bahasanya’, dan aku merasa lega. Tapi sepertinya orang itu sedang menatap tubuhku.
“Beritahu aku, di mana kau mendapatkan pakaian itu”
“Hah?”
Untuk sesaat, aku bingung dan tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi kumis pria itu 
bergerak di sekitarku, seragam sekolah yang aku kenakan ini mungkin terlihat bagus.
“Aku belum pernah meihat desain dan cara menjahitnya..... bagaimana bisa... 
hmmm.... “
Entah bagaimana, sepertinya aku mengerti apa yang dia maksud. Singkatnya, seragam ini 
sangat langka atau mungkin di dunia ini, seragam seperti ini tidak ada. Baiklah, kalau begitu.
“... Jika anda mau, saya akan memberikannya?”
“Benarkah!?”
Karena tawaran dariku , pria berkumis itu benar-benar senang dan mengambil umpanku.
“Pakaian tersebut dijual kepada saya dari seorang pedagang yang sedang berpergian, 
tapi jika anda mau, saya akan memberikannya. Hanya saja, akan merepotkan jika saya 
menjual segala sesuatu yang saya kenakan. Jadi di kota berikutnya, saya akan berterima kasih 
jika saya menerima pakaian yang berbeda...“
Aku tidak bisa mengatakan jika pakaian ini dari dunia yang berbeda, jadi aku membuat 
alasan. Jika pakaian ini dijual untuk uang, maka aku akan selamat. Aku tidak ingin mencari 
perhatian, jadi mungkin ini seperti membunuh dua burung dengan satu batu.
“Baiklah! Masuklah ke dalam kereta kuda. Aku akan memberikan tumpangan sampai 
ke kota berikutnya. Dan di sana, aku akan mempersiapkanmu beberapa pakaian baru dan kau akan menjual pakaian itu padaku.”
“Kalau begitu, negoisasi selesai.”
Pria berkumis dan aku berjabat tangan. Aku dapat naik kereta kuda dan itu membutuhkan 
waktu sekitar tiga jam untuk sampai di kota berikutnya, Rifuretto. Sementara itu, pria 
berkumis (yang nampaknya dipanggil Zanakku-san) menerima jaket seragam yang aku lepas 
dan mengecek pola jahitannya denga sangat antusias. Zanakku-san adalah pembisinis dalam 
bidang fashion dan sedang dalam perjalanan pulang dari pertemuannya hari ini. Aku bisa tahu 
karena saat pakaianku terlibat, reakasinya benar-benar berbeda. Berbicara tentangku, aku 
menikmati pemandangan yang lewat dari jendela kereta kuda. Untuk melihat dunia yang 
berbeda. Mulai sekarang, ini adalah dunia baruku.

Source: uebu-novel.blogspot.com

Tidak ada komentar: